Halaman

Rabu, 21 Desember 2011

Koperasi Sekolah


Koperasi adalah bedan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasar prinsip koperasi sakaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas kekeluargaan. (UU nomer 25 tahun 1992, pasal 1)
Sedangkan sekolah merupakan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran.
Jadi koperasi sekolah adalah koperasi yang berada di lingkungan sekolah yang beranggotakan siswa-siswa, pengurus/staff sekolah, dan warga sekolah lainnya. Koperasi sekolah dapat didirikan sesuat jenjang pendidikan, contoh koperasi sekolah dasar, koperasi sekolah menengah pertama, dan koperasi sekolah menengah umum.
Adapun fungsi-fungsi koperasi, diantaranya:
1.    Menunjang program pembangunan pemerintah di sektor perkoperasian melalui program pendidikan sekolah.
2.    Menumbuhkan kesadaran berkoperasi di kalangan siswa.
3.    Membina rasa tanggung jawab, disiplin, setia kawan, dan jiwa koperasi.
4.    Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan berkoperasi, agar kelak berguna di masyarakat.
5.    Membantu kebutuhan siswa serta mengembangkan kesejahteraan siswa di dalam dan luar sekolah.
Koperasi bertujuan memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat maju, adil, dan makmur berlandaskan pancasila dan UUD 1945. (Baswir, 2000: 6). Sementara koperasi sekolah bertujuan untuk menunjang pembelajaran siswa dan memberikan pelatihan perkoperasian untuk siswa, seta  untuk membangun kesadaran siswa untuk berkoperasi sejak dini. Selain itu keberadaan koperasi sekolah diharapkan dapat membantu siswa untuk melakukan usaha kecil-kecilan, dapat menyelesaikan masalah, melatih siswa untuk berinovasi. Dan yang paling penting keberadaan koperasi sekolah dapat membantu siswa untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dalam bidang ekonomi, dan melatih siwa untuk mandiri dan bertanggung jawab.

Untuk menjalankan koperasi sekolah maka di bentuk penasehat yang terdiri dari :
1.    Kepala sekolah yang bersangkutan sesuai dengan jabatannya (exofficio);
2.    Guru pada sekolah yang bersangkutan; dan
3.    Seorang wakil persatuan orang tua murid yang memiliki pengalaman di bidang koperasi

Selasa, 20 Desember 2011

Sisa Hasil Usaha (SHU)


Ditinjau dari aspek ekonomi manajerial, Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi adalah selisih dari seluruh pemasukan atau penerimaan total (total revenue [TR]) dengan biaya-biaya atau biaya total (total cost [TC]) dalam satu tahun buku (Arifin Sitio dan Halomoan Tambah, 2001 : 87). 

Dari aspek legalistik, pengertian SHU menurut Undang-Undang No. 25/1992, tentang perkoperasian, Bab IX, pasal 45 adalah sebagai berikut :
1.    SHU koperasi adalah pendapatan koperasi yang diperoleh dalam satu tahun buku dikurangi dengan biaya, penyusutan, dan kewajiban lain termasuk pajak dalam tahun buku yang bersangkutan.
2.    SHU setelah dikurangi dana cadangan, dibagikan kepada anggota sebanding jasa usaha yang dilakukan oleh masing-masing anggota dengan koperasi, serta digunakan untuk keperluan pendidikan perkoperasian dan keperluan koperasi, sesuai dengan keputusan Rapat Anggota. 
3.    Besarnya pemupukan modal dana cadangan ditetapkan dalam Rapat Anggota.

Menurut saya, SHU adalah keuntungan dari kegiatan operasional koperasi yang dihitung dengan cara mengurangi pendapatan yang di peroleh dengan biaya biaya operasional dan biaya biaya non operasional koperasi, yang nantinya laba tersebut di bagikan kepada para anggota sebagai balas jasa usahanya dan di gunakan untuk kepengurusan koperasi, pada satu periode.

Berdasarkan pengertian diatas maka besarnya pembagian keuntungan koperasi berbeda untuk setiap anggotanya, tergantung besarnya modal dan partisipasi yang diberikan anggota terhadap kegiatan koperasi.

SHU bersumber dari :
1. Usaha atau bisnis yang diselenggarakan dengan anggota.
2. Usaha atau bisnis yang diselenggarakan dengan bukan anggota.

Hasil SHU harus dipisahkan mana SHU yang di peroleh dari usaha anggota dan mana yang berasal dari kegiatan yang bukan anggota koperasi. SHU yang di peroleh dari usaha anggota koperasi harus di kembalikan kepada anggota koperasi, sedangkan yang berasal dari luar anggota koperasi tidak boleh dibagikan dengan anggota koperasi dan dimasukkan ke dalam cadangan untuk modal koperasi atau untuk keperluan lainnya.

Ada 2 (dua) macam jasa yang merupakan hak anggota dalam SHU yaitu sebagai berikut :
1. Jasa usaha yang terdiri dari penjualan dan pembelian sesuai dengan jenis usaha koperasinya.
a.    Perhitungan jasa penjualan
Pembagian jasa penjualan kepada masing-masing anggota didasarkan atas perbandingan penjualan yang dilakukan.
b.    Perhitungan jasa pembelian
Pembagian jasa pembelian kepada masing-masing anggota tidak berbeda dengan pembagian jasa penjualan.


2. Jasa Simpanan (modal)
Pembagian jasa modal kepada anggota yang didasarkan oleh besarnya simpanan pokok dan simpanan wajib masing-masing anggota. Kecuali bunga simpanan sukarela, jangka waktu dan tingkat bunga. Perhitungan pembagian jasa simpanan wajib dan simpanan pokok kepada masing-masing anggota didasarkan atas perbandingan simpanan yang dilakukan.

Untuk menghitung bunga simpanan sukarela, maka koperasi tidak memandang apakah koperasi menderita rugi. Besarnya bunga tergantung oleh beberapa simpanan, jangka waktu, dan tingkat bunga.

Minggu, 18 Desember 2011

Kasus Koperasi dan Cara Penyelesaiannya


1. Kasus koperasi ini merupakan kejadian yang dialami sendiri oleh orangtua penulis. Penulis bertempat tinggal di daerah BJI Bekasi Timur, di lingkungan tempat tinggal penulis terdapat Koperasi Simpan Pinjam di mana orangtua penulis termasuk anggota koperasi. Berdasarkan informasi, simpanan wajib yang harus dibayarkan oleh orangtua penulis setiap bulannya sebesar Rp. 5000. Dalam koperasi simpan pinjam ini apabila meminjam, bunga yang harus dibayarkan sebesar 1,5 %. Menurut kesepakatan setiap akhir tahun anggota koperasi akan mendapat bingkisan Hari Raya dari SHU masing-masing anggota. Yang menjadi masalah di sini, bukan hanya anggota koperasi saja yang mendapat bingkisan dari SHU masing-masing, namun semua warga lingkungan RT mendapatkannya termasuk yang bukan anggota koperasi. Dengan kata lain SHU anggota dibagi sama rata dengan warga masyarakat RT, tidak berdasarkan besarnya masing-masing SHU anggota. Akibat hal tersebut, orangtua penulis akhirnya keluar dari keanggotaan koperasi simpan pinjam RT.
Cara Penyelesaiannya :
Menurut penulis pembagian SHU sama rata tersebut sangatlah tidak adil dan tidak sesuai dengan ketentuan yang ada. Karena seharusnya anggota koperasi akan mendapatkan SHU berdasarkan pinjaman serta bunga yang dibayarkan. Tidak dibagi sama rata seperti itu, apalagi ada warga RT yang bukan anggota koperasi namun mendapatkan bingkisan yang berasal dari SHU anggota koperasi. SHU seharusnya dibagi sesuai dengan transaksi pinjaman dan jasa modal yang dilakukan oleh masing-masing anggota koperasi. Apabila pihak pengurus koperasi ingin membagikan SHU seharusnya sesuai dengan besarnya SHU masing-masing anggota. Sebaiknya berupa uang tunai sehingga mudah untuk pembagiannya. Jika pengurus koperasi (yaitu pengurus RT juga) ingin membagikan bingkisan hari raya secara merata ke semua warga RT, sebaiknya dana yang digunakan berasal dari kas RT sendiri bukan dari SHU anggota koperasi.

2. Puluhan nasabah Koperasi Serba Usaha (KSU) Binar Sejahtera, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, menjadi korban penipuan ketua koperasi tersebut. Salah satu korban penipuan menjelaskan sudah empat tahun ini, sejumlah surat berharga milik anggota koperasi, seperti Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) dan surat sertifikat tanah dilarikan oleh Kepala KSU Bina Sejahtera. Surat-surat berharga tersebut merupakan jaminan atas pinjaman kredit yang dilakukan oleh para nasabah. Padahal para korban telah melunasi uang pinjaman pada koperasi. Sebelumnya arogansi dari manajemen koperasi tersebut juga telah ditunjukkan dengan dilakukannya penyitaan pada benda-benda milik para nasabah, seperti televisi, jika para nasabah terlambat membayar angsuran pelunasan pinjaman tersebut. Seorang korban lainnya mengatakan, akibat sertifikat tanahnya tidak segera dikembalikan oleh ketua koperasi tersebut, dirinya harus menunda kepentingan dirinya, seperti melakukan pinjaman lain. Oleh karena itu, kalangan nasabah korban penipuan tersebut menuntut pengembalian surat-surat berharga milik para nasabah yang sebelumnya menjadi jaminan sesegera mungkin. Jika dalam batas waktu dua minggu tidak ada pengembalian dari pihak KSU Bina Sejahtera, lanjutnya, para nasabah akan melaporkan kasus tersebut ke Kepolisian Resor Sragen.
Cara Penyelesaiannya :
Menurut penulis kasus puluhan nasabah Koperasi Serba Usaha (KSU) Binar Sejahtera sudah mencapai tahap yang rumit di mana pengurus koperasi tidak mau mengembalikan barang jaminan pinjaman anggota sedangkan pinjaman anggota semua sudah dikembalikan. Namun sikap yang harus dicontoh dari para anggota koperasi, mereka masih memiliki niat untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan dengan memberi waktu selama 2 minggu kepada pengurus koperasi. Hal ini sesuai dengan salah satu asas koperasi yaitu kekeluargaan. Menurut penulis sebaiknya diadakan pertemuan terlebih dahulu antara pengurus dengan para anggota agar dapat menemukan kesepakatan bagaimana masalah ini dapat segera diselesaikan secara adil. Apabila pihak pengurus tetap tidak memiliki itikad baik untuk menyelesaikan masalah, maka sebaiknya para anggota melaporkan masalah ini ke pihak yang berwajib karena ada ketidakadilan yang terjadi pada mereka. Harapannya agar pihak berwajib dapat menyelesaikan masalah ini secara hukum agar anggota masyarakat mendapat keadilan. Untuk anggota koperasi agar hal ini tidak terjadi lagi sebaiknya sebelum masuk ke dalam anggota koperasi, harus melihat secara lebih dalam apakah pengurus koperasi dapat dipercaya karena ini berurusan dengan masalah uang.

3. Koperasi Sembilan Sejati di Semarang Sejak berdiri 3 tahun berhasil menghimpun dana masyarakat sebesar Rp 200 miliar. Namun saat ini sedang mengalami kerugian. namun pengurus koperasi, Hendrawan (Ketua 1 Koperasi SS) melepaskan diri dari tanggung jawab. Laporan tersebut diketahui dari salah satu pengurus yang menganggap dirinya tidak ikut serta dalam terjadinya kerugian tersebut. sehingga hanya Hendrawanlah yang menjadi tersangka. Koperasi tersebut telah diduga menghancurkan pinjaman tanpa prosedur senilai miliaran rupiah serta menerbitkan surat simpanan berjangka dengan total hampir Rp 100 miliar. Hendrawan diduga memberikan pinjaman kepada seorang pengusaha bernama Wijaya di luar prosedur. Akibat perbuatan tersebut, koperasi yang memiliki kantor di Semarang, Juwana, dan Solo itu rugi Rp 55 miliar.
Cara Penyelesaian: 
Seharusnya pengurus koperasi tersebut tidak dapat begitu saja melepaskan diri dari tanggung jawab atas kerugian tersebut. pengurus yang telah melaporkan kasus ini bisa jadi sebagai upaya pelepasan tanngung jawab berkaitan dengan tuntutan deposan / masyarakat atas simpanannya. selain itu, rekening para pengurus yang digunakan untuk transaksi koperasi itupun semestinya juga disita. Kejadian seperti ini harus ditangani oleh pihak yang berwajib karena hal tersebut merupakan tindak pidana perbankan melanggar Pasal 46 jo 16 UU No 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas UU No 7 Tahun 1992. agar berjalan lancar, semestinya para deposan harus dijadikan saksi. yang seharusnya dilaporkan bukan hanya Hendrawan, namun juga Wijaya karena telah melakukan penggelapan dan dijerat pada Pasal 374 KUHP tentang Penggelapan. Jika penanganan kasus tersebut tidak dikembangkan, nasabah tak dapat mengajukan tuntutan pada pengurus koperasi berkaitan dengan pengembalian dana. Menurut penulis, pendirian Koperasi SS telah menyimpang dari tujuan dan semangat atas keberadaan sebuah koperasi.

4. Koperasi yang berdiri tanggal 17 Desember 1998 di Manggar Balikpapan (Kaltim Post 15 Agustus 2010) benar-benar bikin heboh. Kasusnya terkait penerimaan dana bergulir APBN 2004 sebesar Rp1,35 miliar dari Pos Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Dana bergulir itu bukan bergulir ke anggota, tapi jatuhnya bergulir ke kantong pribadi ketuanya, Dwi Setio. Kini sang ketua kabur dan jadi buron. Yang mengejutkan, ternyata Koperasi Hidup Baru itu sudah vakum setahun sebelum pencairan bantuan. Kelayakan sebagai penerima dana bergulir inilah yang menjadi temuan Kejati dan masuk ranah hukum.
Cara Penyelesaian:
Dalam cara penyelesaiannya, penulis tidak membahas mengenai aspek hukumnya. Yang ingin penulis kupas seputar eksistensi koperasi secara umum. Secara definisi, koperasi itu merupakan jenis badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum yang bekerjasama, berprinsip gerakan ekonomi kerakyatan, berazas kekeluargaan. Dalam UUD kita, Koperasi ditempatkan dalam posisi mulia. Kata kuncinya yaitu usaha kekeluargaan bertujuan untuk mensejahterakan anggotanya. Dalam Standard Akuntansi Keuangan disebutkan, yang membedakan koperasi dengan badan hukum lain adalah anggota koperasi beridentitas ganda. Pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi. 

Sumber :

HAMBATAN KOPERASI


Banyaknya masalah yang menghambat perkembangan koperasi di Indonesia menjadi problematik yang secara umum masih dihadapi. Pencapaian misi mulia koperasi pada umumnya masih jauh dan idealisme semula. Koperasi yang seharusnya mempunyai amanah luhur, yaitu membantu pemerintah untuk mewujudkan keadilan ekonomi dan sosial, belum dapat menjalani peranannya secara maksimal. Membangun koperasi menuju kepada peranan dan kedudukannya yang diharapkan merupakan hai yang sangat sulit, walau bukan merupakan hal yang tidak mungkin.

Pengelolaan koperasi yang kurang efektif dan efisien, baik dari segi organisasi, manajemen, maupun keuangan, menjadi salah satu kendala berkembangnya koperasi. Hal itu disebabkan masih rendahnya tingkat kemampuan dan profesionalisme sumber daya manusia yang terlibat di lembaga ekonomi tersebut.

1.Sumber Daya Manusia (SDM)
Banyak kenyataan yang mengungkapkan bahwa SDM yang ikut terlibat didalamnya baik sebagai anggota, pengurus, maupun pengelola koperasi kurang bisa mendukung jalannya koperasi. Dengan kondisi seperti ini maka koperasi berjalan dengan tidak professional dalam artian tidak dijalankan sesuai dengan kaidah sebagaimana usaha lainnya. Dari sisi keanggotaan, seringkali pendirian koperasi itu didasarkan pada dorongan yang dipaksakan oleh pemerintah. Akibatnya pendirian koperasi didasarkan bukan dari bawah melainkan dari atas sehingga pelaksanaan koperasi juga tidak sepenuh hati.
Pengelola yang ditunjuk oleh pengurus seringkali diambil dari kalangan yang kurang professional. Seringkali pengelola yang diambil bukan dari yang berpengalaman baik dari sisi akademis maupun penerapan dalam wirausaha melainkan dari orang – orang yang kurang bahkan tidak mempunyai pekerjaan. Pengurus yang dipilih dalam Rapat Anggota (RA) sering kali dipilih berdasarkan status social dalam masyarakat itu sendiri. Dengan demikian pengelolaan koperasi dijalankan dengan kurang adanya control yang ketat dari para anggotanya.
2. Keuangan
Kurang berkembangnya koperasi juga berkaitan sekali dengan kondisi keuangan badan usaha tersebut. Sering kali kendala modal yang dimiiki menjadi perkembangan koperasi terhambat. Kendala modal itu bisa jadi karena kurang adanya dukungan modal yang kuat dari dalam atau bahkan sebalikna terlalu tergantungnya modal dari sumber koperasi itu sendiri. Sistem manajemen yang digunakan masih tradisional, terlalu birokratis, kurang lincah dan fleksibel, kualitas SDM rendah, serta akses terhadap sumber modal  terbatas.
Untuk itu mulai sekarang ini seyogyanya pemerintah mulai memikirkan untuk memberikan kemudahan dalam permodalan bagi koperasi baik dengan meminjamkan modal dari Bank atau dengan melakukan kerjasama antara pemerintah dengan para koperasi, agar nantinya koperasi dapat beroperasi dengan baik dan dapat bersaing dengan usaha lain dalam pasar global yang sekarang ini sudah mulai dibuka. Sementara dari koperasi itu sendiri juga hendaknya mencari alternatif lain seperti kerjasama dengan swasta atau mencari donatur lain yang sekiranya mempu untuk memajukan koperasi tersebut. Selain itu juga bisa dengan memperbaiki manajemennya sehingga para anggota maupun pengurus koperasi dapat bekerja dengan baik dan lancar.
3.Rendahnya Etos Kerja Personal Koperasi
Rendahnya etos kerja ini selain berkaitan dengan rendahnya kualitas SDM juga bisa di sebabkan karena kurang adanya rangsangan untuk meningkatkan gairah kerja para personel yang terlibat dalam kegiatan koperasi sendiri. Secara organisasi anggota koperasi hanya punya andil dalam pengumpulan modal baik itu dari simpanan pokok, simpanan wajib atau simpanan lainnya. Sisa Hasil Usaha (SHU) diperoleh dari laba bersih yang dihasilkan dari kegiatan koperasi. SHU ini selanjutnya akan dipotong dana cadangan yang telah ditetapkan dalam rapat anggota untk kepentingan ekspansi kegiatan usaha koperasi. SHU yang telah di kurangi tadi selanjutnya kan dibagikan kepada para anggota berdasarkan modal yang disetorkan.
4.Kurang Bisa Mengoptimalkan Penggunaan Teknologi Informasi (TI)
Banyak koperasi yang sampai sekarang masih belum menggunakan teknologi dalam melakukan kegiatan sehari-hari, baik dalam pembukuan, keuangan, administrasi dan pada bidang-bidang lainnya. Sehingga bagaimana mungkin koperasi tersebut bisa atau akan maju jika sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan tidak dimiliki. Untuk itu hendaknya koperasi mulai sekarang harus memperhatikan teknologi baik teknologi untuk produksi maupun untuk informasi kepada para anggota. Selain itu manajemen koperasi harus diperbaiki khususnya dalam pembukuan atau pengolahan data-data dari para anggota, yang mana kalau biasa dibuat pelaporan yang rutin. Jika kita telusuri lebih jauh sebenarnya koperasi di Indonesia ini sangat banyak namun kita saja yang tidak tahu dan itu bukan kesalahan kita tapi memang karena koperasi tersebut yang belum menerapkan sistem informasi yang baik. Untuk itu koperasi harus secara gencar mensosialisasikan atau menginformasikan tentang koperasi mereka sehingga akan banyak masyarakat yang ikut sebagai anggota.
5. Hambatan Budaya
Disini artinya bahwa budaya kerja keras dan disiplin bangsa Indonesia yang jauh dari harapan, sehingga koperasi akan sulit untuk berkembang apalagi untuk maju. Untuk itu dalam menetapkan pengurus koperasi harus diseleksi dengan baik agar nantinya dalam perjalanannya tidak ada pengurus yang hanya makan gaji buta tanpa mau bekerja. Selain itu hendaknya dilakukan atau diberikan pelatihan/ bimbingan kepada seluruh pengurus dan anggota agar mereka sadar bahwa ini adalah koperasi mereka dan mereka harus mau untuk bekerja keras guna kemajuan koperasi tersebut.

Jika kita mau berusaha, pada dasarnya menjadikan koperasi menjadi sehat dalam arti bisa melakukan usaha dengan baik, melakukan pembukuan dengan tertib, dan lain sebagainya bisa kita lakukan. Selain itu mulai sekarang hendaknya koperasi harus merubah pandangan mereka yang mana mereka tidak lagi perlu dibatasi hanya mengutamakan pelayanan kepada anggota, tetapi juga harus mengutamakan pelayanan untuk seluruh masyarakat tanpa harus membatasi masyarakat tersebut. Konsep koperasi harus lebih mengutamakan anggotanya, harus ditinggalkan namun tanpa menghilangkan konsep bahwa koperasi ini harus memberi manfaat sebesar-besarnya bagi anggota. Dengan demikian prinsip-prinsip bisnis harus menjadi orientasi koperasi, yang akhirnya akan bermuara pada manfaat bagi anggotanya.

Keberhasilan Koperasi


Koperasi mempunyai peran yang sangat penting sebagai pelaku ekonomi. Maka pertumbuhan dan perkembangannya perlu mendapatkan perhatian dan ditingkatkan agar dapat memberikan pelayanan yang baik bagi para anggotanya dan masyarakat.

Keberhasilan yang dicapai koperasi tidak semata-mata diukur dengan tingkat efisiensi koperasi sebagai perusahaan ataupun keuntungan yang didapat, melainkan diukur dengan seberapa efisien koperasi tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan anggota dan masyarakat, serta dapat menimbukan dampak yang baik untuk lingkungan. Adapun syarat-syarat agar koperasi dapat mencapai keberhasilan1, yaitu :
a.    Berusaha dengan efisien dan produktif
b.    Efisien dan efektif bagi para anggota
c.    Memberikan saldo bagi setiap anggota dalam jangka panjang
d.    Menghindari terjadi sitasi, dimana kemanfaatan dari usaha bersama merupakan barang milik umum

Menuruy H. Sutaryo Salim, keberhasilan koperasi dapat dilihat dari :
a.    Keberhasilan usaha (business success)
b.    Keberhasilan anggota (member success)
c.    Keberhasilan pembangunan (development success)

Adapun pendapat dari para ahli mengenai keberhasilan koperasi, yaitu:
·         Jochen Ropke
Perlu adanya uji partisipasi dan uji pasar untuk mengukur keberhasilan koperasi. Ke dua ujian tersebut menggambarkan bahwa koperasi harus memiliki potensi keunggulan bersaing di banding dengan lembaga lain.
·         Muslimin Nasution
Keberhasilan usaha KUD adalah untuk menunjang kegiatan usaha atau rumah tangga anggotanya dalam rangka meningkatkan kekuatan ekonominya melalui penyediaan barang dan jasa yang dibutuhkan yang sangat berkaitan dengan realisasi dari skala ekonomi, perbankan, posisi pasar atau pangsa pasar dan kemungkinan-kemungkinan yang lebih besar dalam komunikasi, informasi dan inovasi.
·         A. Hanel
Hasil usaha dan keberhasilan koperasi tidak timbul sendir, melainkan merupakan akibat dari usaha koperasi yang giat tergantung pula pada kerjasama yang efektif dan kontribusi para anggota terhadap perkembangan koperasi dan yang memerlukan tingkat solidaritas atau loyalitas.
·         Atje Partadiredja
Di mana keberhasilan koperasi sangat tergantung pada mutu dan kerja dalam bidang manajemen, jika orang-orang dalam manajemen itu jujur, cakap dan giat, besarlah kemungkinannya koperasi akan maju pesat, sebaliknya jika tidak cakap, curang atau tidak berwibawa tentulah koperasi pun akan mundur atau tidak semaju seperti yang diharapkan.
·         Ima Suwandi
Keberhasilan KUD diukur dari segi organisasi yang meliputi kegiatan keanggotaan, kegiatan pengurusan dan kegiatan administrasi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Perdagangan dan Koperasi bekerja sama dengan lembaga Penelitian IPB tahun 1983, mengemkaan bahwa keberhasilan koperasi dapat dinilai dari tiga sisi, yaitu :
1.    Sisi organisasi
2.    Sisi ekonomi
3.    Sisi social

Ketiga sisi memiliki bobot yang sama dan merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan dalam usaha pengembangan dan pembinaan KUD.

Tujuan utama dari koperasi adalah untuk mensejahterakan anggota dan masyarakat, jadi keberhasilan koperasi diukur dari seberapa besar pengaruh koperasi dalam upaya mensejahterakan anggota dan masyarakat. Apabila keberadaan koperasi dirasakan tidak memberikan dampak apa apa kepada anggota dan masyarakat, maka koperasi tersebut belum/tidak berhasil. Namun, apabila keberadaan koperasi tersebut dirasakan dapat memberikan pengaruh baik dan menguntungkan anggota dan masyarakat, maka koperasi tersebut dapat dikatakan berhasil.Faktor-faktor interen dalam keberhasilan koperasi adalah kejujuran, kecapakan, giat dan manajemen yang baik dari anggota dan kepengurusan koperasi.

Sabtu, 10 Desember 2011

galau

lagi iseng iseng nyari kertas yang udah ga kepake alisa bekas buat di coret coret rumus statistik eh, malah nemu kertas yang pernah lila tulis tulis waktu galau. aku baca lagi tulisan di kertas itu, jadi keingetan saat diary itu lila tulis kira kira setahun yang lalu. begini isi diary yang lila tulis itu :

"aku menyukai dia, tapi sulit rasanya. memikirkannya aja sulit apa lagi berharap dia jadi mikikku. setiap dia hadir di mimpiku rasanya aku seperti mimpi buruk, mengharapkan yang tak mungkin, bagi pugguk merindukan bulan. aku ga tau apa yang membuat dia begitu istimewa. banyak sifat sifat dia yang ga aku suka. dan hati kecil selalu berkata dia ga cocok buat aku, dan aku ga cocok buat dia."

abis baca diary yang lila tulis jadi ketawa sendiri, kalo difikir fikir lagi dilematis banget ya lila. terlalu meratapi perasaan itu ga baik, coba bandingkan si dia sekarang udah sibuk sama cewe barunya dan lila sekarang udah pewe sama kesibukan lila. dan yang pasti perasaan ga enak yang lila rasain sewaktu nulis diary itu udah ga lila rasain.