Laman

Minggu, 18 Desember 2011

HAMBATAN KOPERASI


Banyaknya masalah yang menghambat perkembangan koperasi di Indonesia menjadi problematik yang secara umum masih dihadapi. Pencapaian misi mulia koperasi pada umumnya masih jauh dan idealisme semula. Koperasi yang seharusnya mempunyai amanah luhur, yaitu membantu pemerintah untuk mewujudkan keadilan ekonomi dan sosial, belum dapat menjalani peranannya secara maksimal. Membangun koperasi menuju kepada peranan dan kedudukannya yang diharapkan merupakan hai yang sangat sulit, walau bukan merupakan hal yang tidak mungkin.

Pengelolaan koperasi yang kurang efektif dan efisien, baik dari segi organisasi, manajemen, maupun keuangan, menjadi salah satu kendala berkembangnya koperasi. Hal itu disebabkan masih rendahnya tingkat kemampuan dan profesionalisme sumber daya manusia yang terlibat di lembaga ekonomi tersebut.

1.Sumber Daya Manusia (SDM)
Banyak kenyataan yang mengungkapkan bahwa SDM yang ikut terlibat didalamnya baik sebagai anggota, pengurus, maupun pengelola koperasi kurang bisa mendukung jalannya koperasi. Dengan kondisi seperti ini maka koperasi berjalan dengan tidak professional dalam artian tidak dijalankan sesuai dengan kaidah sebagaimana usaha lainnya. Dari sisi keanggotaan, seringkali pendirian koperasi itu didasarkan pada dorongan yang dipaksakan oleh pemerintah. Akibatnya pendirian koperasi didasarkan bukan dari bawah melainkan dari atas sehingga pelaksanaan koperasi juga tidak sepenuh hati.
Pengelola yang ditunjuk oleh pengurus seringkali diambil dari kalangan yang kurang professional. Seringkali pengelola yang diambil bukan dari yang berpengalaman baik dari sisi akademis maupun penerapan dalam wirausaha melainkan dari orang – orang yang kurang bahkan tidak mempunyai pekerjaan. Pengurus yang dipilih dalam Rapat Anggota (RA) sering kali dipilih berdasarkan status social dalam masyarakat itu sendiri. Dengan demikian pengelolaan koperasi dijalankan dengan kurang adanya control yang ketat dari para anggotanya.
2. Keuangan
Kurang berkembangnya koperasi juga berkaitan sekali dengan kondisi keuangan badan usaha tersebut. Sering kali kendala modal yang dimiiki menjadi perkembangan koperasi terhambat. Kendala modal itu bisa jadi karena kurang adanya dukungan modal yang kuat dari dalam atau bahkan sebalikna terlalu tergantungnya modal dari sumber koperasi itu sendiri. Sistem manajemen yang digunakan masih tradisional, terlalu birokratis, kurang lincah dan fleksibel, kualitas SDM rendah, serta akses terhadap sumber modal  terbatas.
Untuk itu mulai sekarang ini seyogyanya pemerintah mulai memikirkan untuk memberikan kemudahan dalam permodalan bagi koperasi baik dengan meminjamkan modal dari Bank atau dengan melakukan kerjasama antara pemerintah dengan para koperasi, agar nantinya koperasi dapat beroperasi dengan baik dan dapat bersaing dengan usaha lain dalam pasar global yang sekarang ini sudah mulai dibuka. Sementara dari koperasi itu sendiri juga hendaknya mencari alternatif lain seperti kerjasama dengan swasta atau mencari donatur lain yang sekiranya mempu untuk memajukan koperasi tersebut. Selain itu juga bisa dengan memperbaiki manajemennya sehingga para anggota maupun pengurus koperasi dapat bekerja dengan baik dan lancar.
3.Rendahnya Etos Kerja Personal Koperasi
Rendahnya etos kerja ini selain berkaitan dengan rendahnya kualitas SDM juga bisa di sebabkan karena kurang adanya rangsangan untuk meningkatkan gairah kerja para personel yang terlibat dalam kegiatan koperasi sendiri. Secara organisasi anggota koperasi hanya punya andil dalam pengumpulan modal baik itu dari simpanan pokok, simpanan wajib atau simpanan lainnya. Sisa Hasil Usaha (SHU) diperoleh dari laba bersih yang dihasilkan dari kegiatan koperasi. SHU ini selanjutnya akan dipotong dana cadangan yang telah ditetapkan dalam rapat anggota untk kepentingan ekspansi kegiatan usaha koperasi. SHU yang telah di kurangi tadi selanjutnya kan dibagikan kepada para anggota berdasarkan modal yang disetorkan.
4.Kurang Bisa Mengoptimalkan Penggunaan Teknologi Informasi (TI)
Banyak koperasi yang sampai sekarang masih belum menggunakan teknologi dalam melakukan kegiatan sehari-hari, baik dalam pembukuan, keuangan, administrasi dan pada bidang-bidang lainnya. Sehingga bagaimana mungkin koperasi tersebut bisa atau akan maju jika sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan tidak dimiliki. Untuk itu hendaknya koperasi mulai sekarang harus memperhatikan teknologi baik teknologi untuk produksi maupun untuk informasi kepada para anggota. Selain itu manajemen koperasi harus diperbaiki khususnya dalam pembukuan atau pengolahan data-data dari para anggota, yang mana kalau biasa dibuat pelaporan yang rutin. Jika kita telusuri lebih jauh sebenarnya koperasi di Indonesia ini sangat banyak namun kita saja yang tidak tahu dan itu bukan kesalahan kita tapi memang karena koperasi tersebut yang belum menerapkan sistem informasi yang baik. Untuk itu koperasi harus secara gencar mensosialisasikan atau menginformasikan tentang koperasi mereka sehingga akan banyak masyarakat yang ikut sebagai anggota.
5. Hambatan Budaya
Disini artinya bahwa budaya kerja keras dan disiplin bangsa Indonesia yang jauh dari harapan, sehingga koperasi akan sulit untuk berkembang apalagi untuk maju. Untuk itu dalam menetapkan pengurus koperasi harus diseleksi dengan baik agar nantinya dalam perjalanannya tidak ada pengurus yang hanya makan gaji buta tanpa mau bekerja. Selain itu hendaknya dilakukan atau diberikan pelatihan/ bimbingan kepada seluruh pengurus dan anggota agar mereka sadar bahwa ini adalah koperasi mereka dan mereka harus mau untuk bekerja keras guna kemajuan koperasi tersebut.

Jika kita mau berusaha, pada dasarnya menjadikan koperasi menjadi sehat dalam arti bisa melakukan usaha dengan baik, melakukan pembukuan dengan tertib, dan lain sebagainya bisa kita lakukan. Selain itu mulai sekarang hendaknya koperasi harus merubah pandangan mereka yang mana mereka tidak lagi perlu dibatasi hanya mengutamakan pelayanan kepada anggota, tetapi juga harus mengutamakan pelayanan untuk seluruh masyarakat tanpa harus membatasi masyarakat tersebut. Konsep koperasi harus lebih mengutamakan anggotanya, harus ditinggalkan namun tanpa menghilangkan konsep bahwa koperasi ini harus memberi manfaat sebesar-besarnya bagi anggota. Dengan demikian prinsip-prinsip bisnis harus menjadi orientasi koperasi, yang akhirnya akan bermuara pada manfaat bagi anggotanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar